Wednesday, February 3, 2016

Bayinya Meninggal Usai Disuntik, Orangtua Minta Penjelasan RSUD Mamuju Utara



Muh Yahya orangtua Aqifa Putri, bayi 11 bulan yang meninggal dunia yang diduga jadi korban malapraktk di RSUD Ako Mamuju Utara, Sulawesi Barat meminta penjelasan terkait kematian bayinya.

Pada Rabu (3/2/2016), Yahya bersama istrinya menemui pengelola RSUD Ako untuk meminta penjelasan dari pihak dokter yang menangani anaknya saat berada di ruang UGD pekan lalu.

Dokter Mariati, yang bertugas menangani Aqifa, menyebut penanganan medis yang dilakukan pihak rumah sakit sudah melalui prosedur yang berlaku.

Penjelasan Mariati ini sempat memicu perdebatan antara kedua orangtua Aqifa dengan para dokter.

Yahya menilai penanganan dokter RSUD Ako terhadap anaknya tidak memenuhi standar prosedur penaganan pasien.

Dia beralasan, anaknya langsung mendapat tindakan medis yaitu disuntik tanpa didahului diagnosa dokter.

Selain itu, dokter juga tidak menjelaskan kondisi Aqifa kepada kedua orangtuanya, sebelum memberikan suntikan.

Yahya mengaku heran anaknya yang semula masih bisa diajak bicara dan bercanda tiba-tiba kejang-kejang, mulut dan kuku bocah itu langsung membiru tak lama setelah disuntik.

Namun perdebatan tersebut hanya berlangsung beberapa saat karena setelah ketua Komite Medik RSUD Ako, dr Willy SpB memberikan penjelsan.

Menurut Willy, penanganan pasien yang dilakukan petugas rumah sakit berdasarkan rekam medik saat pasien dirawat.

“Semua standar prosedur pelayanan pasien sudah sesuai. Saya sudah periksa rekam mediknya,” ujar Willy.

Willy kembali menegaskan, penagana Aqifa sesuai standar prosedur yang berlaku dan tak ada malapraktik dalam penanganan bocah Aqifah.

Mendengarkan penjelasan Willy itu, Yahya menyatakan tidak ingin memperpanjang perdebatan. Namun, dia mengatakan belum menentukan langkah selanjutnya.

“Saya sudah dengan dan simak alasan dan penjelasan pihak rumah sakit, namun hal ini masih akan saya diskusikan dengan keluarga sebelum menentukan sikap selanjutnya,” ujar Yahya. 

“Seharusnya Bapak Kasih Tahu Dulu, Salah Saya Apa!”



“Seharusnya Bapak kasih tahu dulu, salah saya apa! Jangan main memberhentikan saja!”

Itulah kalimat yang keluar dari mulut seorang pengendara sepeda motor saat diberhentikan petugas kepolisian Cirebon di Jalur Utama Pantura, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu siang (3/2/2016).

Setelah diberhentikan polisi, pengendara sepeda motor bernama Darto itu kemudian memberikan surat-surat yang diminta petugas.

Sambil menyerahkan surat-surat, Darto terus mengulang pertanyaan yang serupa. Namun ia tampak kecewa karena petugas tak kunjung memberi penjelasan.

“Saya kurang tahu, kenapa saya diberhentikan. Padahal saya pakai helm, plat nomor saya baru, surat (STNK dan SIM) lengkap. Dan saya tanya salah saya apa, juga tak dijawab,” kata Darto, dengan raut wajah kesal.

Dia mengatakan, seharusnya petugas menjelaskan alasan pemeriksaan tersebut. Setidaknya petugas memberikan jawaban apabila pengendara memberikan pertanyaan.

“Bagi saya mengganggu perjalanan. Kan seharusnya polisi itu tahu, kriteria motor mana saja yang melanggar. Dari gerak gerik pengendara (yang tidak lengkap dan bermasalah) juga sebetulnya sudah ketahuan,” kata pria yang berasal dari Kabupaten Majalengka itu.

Meski sedang menjadi bahan kritikan masyarakat dunia maya atau netizen tentang “Cirebon Kota Tilang”, Polres Cirebon tetap intensif melakukan razia.

Padahal di dunia maya, netizen terus mengunggah dan atau setidaknya memberikan komentar terkait predikat "Cirebon Kota Tilang".

Ipda Dadang Sp, Panit Lantas Polsek Weru mengungkapkan, razia dilakukan untuk mengurangi tindakan kriminalitas bermotor, terutama di Jalur Utama Pantura, khususnya di perbatasan Cirebon dengan Kabupaten Indramayu dan Provinsi Jawa Tengah.

Dadang menyebut, sebagian besar pelanggar tidak memiliki surat-surat lengkap demikian juga dengan kelengkapan sepeda motor.

“Hampir 70 persen tidak lengkap persuratan, 30 persennya kelengkapan keamanan berkendara,” dia menegaskan.

Terkait maraknya kritik warga di media sosial, Dadang mengatakan, kepolisian tetap menanggapi dengan baik.

Dia menambahkan, petugas kepolisian berusaha menjalankan tugas sesuai prosedur yang berlaku.

“Walaupun masih banyak yang belum terima, tetap saya arahkan (lakukan) sesuai perintah pimpinan, dan aturan yang berlaku,” pungkasnya.

Ruko di Pasar Sukaramai Nyaris Gosong Dilalap Si Jago Merah



Sebuah ruko berlantai dua yang menjual barang barang sembako di Jalan AR Hakim, Kecamatan Medan Area nyaris gosong dilalap si jago merah, Senin (1/2) jam 19.00 WIB.

Informasi yang diperoleh menyebutkan, saat terbakar ruko tersebut dalam keadaan tertutup dan di tinggal pergi oleh pemiliknya. Diduga lantaran korsleting listrik dari dalam ruko, hingga secara tiba-tiba percikan api dibarengi dengan kepulan asap tebal keluar dari dalam ruko tersebut.

Warga sekitar yang mengetahui kejadian tersebut, langsung menelpon pemilik ruko yang saat itu sedang tidak ada di lokasi sembari menghubungi petugas pemadam kebakarana.

Beruntung, 7 unit mobil pemadam kebakaran cepat datang. Dibantu warga sekitar, pemadam mampu menguasai api dan tak sempat meratakan ruko ataupun bangunan sebelahnya.

"Tadi tiba-tiba kami liat langsung aja keluar asap hitam pekat dari dalam ruko itu, karna takut api merembet ke bangunan lainnya kami pun mendobrak pintu ruko itu dan memadamkannya dengan alat seadanya sambil nunggu pemadam kebakaran dateng bang. Kami gak tau penyebabnya, kurasa korsleting listrik bang," ujar Haposan Siregar (50) warga sekitar.

Ini Penyebab Karyawan Terbaik Resign?



“Dear Boss, I quit…….” Saya sempat terperanjat saat salah satu teman mengabarkan sudah keluar dari pekerjaan yang ia tekuni sekitar empat tahun terakhir. Saya terkaget-kaget karena pekerjaan yang ia tinggalkan tersebut, merupakan pekerjaan yang teman saya impikan sejak ia menapaki bangku kuliah.

Selama ini tidak pernah terdengar kesah dari teman saya itu. Ia malah kerap bercerita bahwa karir yang ia tekuni sangat seru, sesuai passion, bla…bla…bla… saya terkadang suka iri kala ia bercerita mendapatkan fasilitas ini-itu dari kantor tempatnya bekerja karena kinerjanya dinilai baik. Teman saya tersebut ternyata bukan satu-satunya yang resign, ada teman saya satu lagi yang mengundurkan diri dari pekerjaan yang ia tekuni selama beberapa tahun terakhir.

Padahal sepengetahuan saya, teman saya itu merupakan salah satu karyawan yang cukup diandalkan di kantor tempatnya bekarja. Apa yang menyebabkan mereka resign? Usut punya usut ternyata ini yang menyebabkan mereka memutuskan untuk “berlabuh” dan mencoba mencari “kapal” lain sebagai sarana untuk berlayar di lautan karir.

Merasa Tidak Dihargai

Teman saya mengatakan, secinta apapun kita dengan pekerjaan yang dijalani, tetap memilih keluar bila hasil kerja kita tidak dihargai. Bukan ingin mendapatkan penghargaan dengan puji-pujian, atau pengakuan yang bersifat seremonial, namun setidaknya ada pengakuan atas jerih payah yang sudah dilakukan dengan baik.

Bila sudah melakukan yang terbaik – dan rekan kerja juga belum tentu bisa melakukan pekerjaan tersebut sebaik yang sudah kita lakukan, akan tetapi atasan/pimpinan tetap juga memandang sebelah mata, teman saya bilang, untuk apa dilanjutkan? Di luar sana masih banyak perusahaan lain yang mau menghargai dan menampung ide-ide brilian kita. Ia bilang, terkadang fakir rasa penghargaan dari atasan akan menyebabkan ide-ide kita tersumbat. Kita malas melakukan yang terbaik, karena toh kalaupun sudah melakukan hal yang paling baik, tidak akan dihargai, Sehingga, daripada menghambat karir, lebih baik keluar secepatnya dan mencari tempat kerja lain.

Beban Pekerjaan Tidak Sebanding Lurus Dengan Besarnya Gaji

Saat beban pekerjaan terus bertambah, namun gaji tidak jua mengalami peningkatan selama berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun, teman saya bilang ada baiknya resign. Ia mengatakan, tidak perlu takut tidak mendapat pekerjaan baru, selama kita memiliki keahlian, kinerja baik, dan kemauan untuk maju, kesempatan selalu terbuka lebar. Usia yang sudah tidak lagi muda bukan halangan untuk mendapatkan pekerjaan baru. Untuk posisi tertentu seperti frontliner, umur belia mungkin suatu keharusan, namun pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus dengan pengalaman yang mumpuni, umur tidak akan menjadi batu sandungan. Teman saya bilang, mau sampai kapan bertahan dengan tumpukan pekerjaan yang semakin bertambah, sementara gaji justru semakin berkurang karena inflasi? Mau bekerja rodi?

Perusahaan Mempromosikan Orang Yang Salah

Saat mendapat tambahan pekerjaan, saat dibebani tanggung jawab yang lebih besar, mungkin awalnya kita sambut dengan sukacita. Hal tersebut dikarenakan, suatu saat nanti kita berharap akan ada promosi sebagai kompensasi tambahan tanggung jawab. Namun setelah bekerja sepenuh hati memberikan yang terbaik kepada perusahaan, promosi tak kunjung tiba, bahkan yang mendapat promosi adalah rekan sekerja yang secara kinerja dinilai biasa-biasa saja oleh kita dan rekan-rekan sejawat, haruskah kita tetap bertahan? Teman saya bilang, no way! Lebih baik tinggalkan perusahaan seperti itu.

Tidak ada gunanya bertahan di tempat kerja yang pimpinanya tidak bisa membedakan mana karyawan unggul dengan karyawan yang terpoles unggul.

Tidak Dipercaya Dan Selalu Diawasi

Tidak dipercaya dengan tidak dihargai bedanya tipis. Teman saya bilang, tidak dipercaya umumnya bila boss terus-terusan mengecek pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita. Alhasil saking seringnya dicek, pekerjaan yang dibebankan tersebut ujung-ujungnya malah tidak selesai.

Lha, bagaimana tidak terbengkalai bila setiap jam dipanggil menghadap? Apalagi bila pekerjaan tersebut membutuhkan kreativitas tinggi.

Suasana Kerja Tidak Menyenangkan

Ini sepertinya menjadi momok bagi setiap karyawan. Meski gaji besar, pekerjaan sesuai passion, boss ok, namun bila rekan kerja dan suasana kantormenyebabkan rasa tidak nyaman, banyak pekerja yang akhirnya memutuskan untuk resign.

Teman saya bilang, memang tidak ada pekerjaan yang 100 persen nyaman. Namanya juga bekerja, kalau belanja baru nyaman hehehe, namun bila kita mampu meminimalisir sumber rasa tidak nyaman tersebut, mengapa tidak? Bagaimana menurut teman-teman Kompasianer?

Tuesday, February 2, 2016

Marquez Masih Hadapi Masalah di Sepang



Putaran terbaik Marc Marquez pada hari kedua tes pramusim MotoGP 2016 di Sirkuit Sepang, Malaysia, Selasa (2/2/2016), lebih cepat 1,4 detik dibanding sehari sebelumnya.

Namun, fakta tersebut tak lantas membuat pebalap Repsol Honda tersebut senang. Marquez mengaku timnya masih menghadapi banyak masalah.

Hari ini, Marquez fokus dengan motor untuk 2016 yang sudah diperbaiki setelah dicoba pada tes terakhir pada 2015. Namun, sekali lagi dia masih belum bisa mendapatkan data penting.

"Hari ini kami memutuskan memakai satu mesin untuk mencoba elektronik. Menurut saya, besok kami masih harus memastikan semuanya," kata pebalap 22 tahun tersebut.

Marquez menutup hari kedua dengan menjadi tercepat keempat. Namun, selisih 0,4 detik dari Jorge Lorenzo (Movistar Yamaha) yang berada di urutan kedua, ketika memakai ban belakang karas, menunjukkan bahwa dia masih memiliki masalah.

"Segera ketika saya menyentuh gas (saat keluar tikungan) hingga waktunya mengerem lagi merupakan area di mana kami paling banyak mengalami masalah," aku Marquez.

Masalah RC213V tidak hanya soal kontrol traksi. ECU standar yang harus mereka pakai sekarang juga mengganggu efektivitas seamless gearbox mereka.

"Sepertinya pergantian gigi tahun lalu lebih halus. Saat lintasan lurus, kami tidak kehilangan waktu. Namun, di beberapa tikungan, tahun lalu terasa lebih halus," ujar Marquez menjelaskan.

Honda saat ini masih tertinggal dibanding Yamaha dan Ducati untuk masalah elektronik. Yamaha dan Ducati lebih dulu bisa beradaptasi dengan ECU standar yang mulai diberlakukan musim ini.

"Tentu saja kami ingin mengawali tes pramusim dengan semuanya sudah berfungsi dengan baik, tetapi itu bukan yang terjadi. Kami harus maju, terus berusaha, dan bekerja keras," kata pemilik dua gelar juara dunia kelas premier tersebut.

Sesi tes pramusim di Sirkuit Sepang masih menyisakan satu hari, Rabu (3/2/2016).

Tes berikutnya akan dilakukan di Sirkuit Phillip Island (Australia) pada 17-19 Februari, lalu di Sirkuit Losail (Qatar) pada 2-4 Maret.

Rossi: Motor Sekarang Lebih Bertenaga



Pebalap Movistar Yamaha, Valentino Rossi, menyebut YZR-M1 yang dia coba pada tes pramusim MotoGP 2016 di Sirkuit Sepang, Malaysia, lebih bertenaga dibanding mesin tahun lalu.

"Menurut saya lebih bertenaga, tetapi kecepatannya sama. Ini akan menarik karena saat ini kami tidak tahu persis level top speed kami dibanding Honda dan Ducati," kata Rossi setelah menjalani hari kedua tes, Selasa (2/2/2016).

Rossi menutup hari kedua dengan berada di urutan keenam daftar pencatat waktu tercepat. Putaran terbaiknya adalah 2 menit 1,021 detik.

"Hari yang sulit lagi dan banyak yang harus dilakukan. Namum, saya cukup puas, terutama karena kami banyak mendapat kemajuan dengan setelan motor," kata pebalap 36 tahun tersebut.

"Kecepatan dan waktu putaran saya meningkat cukup banyak, tetapi masih banyak yang harus kami lakukan. Namun, kita harus menunggu balapan pertama untuk tahu (top speed)," kata Rossi menambahkan.

Pada hari pertama tes di Sirkuit Sepang, Senin (1/2/2016), putaran terbaik Rossi adalah 2 menit 1,717 detik.

Di Sepang, Rossi dan rekan satu timnya, Jorge Lorenzo, mencoba dua mesim berbeda yang disiapkan Yamaha. Rossi lebih memilih mesin yang mirip dengan musim lalu.

"Saat ini, saya lebih memilih motor yang mirip mesin 2015 karena dengan mesin 2016 kami memiliki sesuatu yang bagus, tetapi mengalami masalah dengan pengereman," kata Rossi.

Rossi juga menyebut Lorenzo sangat cepat di Sepang. Menurut dia, dengan ban keras, Lorenzo merupakan pebalap tercepat.

Lorenzo kalah cepat dari Danilo Petrucci (Octo Pramac) pada hari kedua. Hector Barbera (Avintia Racing) dan Marc Marquez (Repsol Honda) berada di urutan ketiga dan keempat tercepat.

"Jorge sangat, sangat cepat. Menurut saya, dia yang paling cepat dengan ban keras karena Petrucci, Barbera, dan Marquez membuat putaran terbaik dengan ban lunak," kata Rossi.

Sesi tes yang dijadwalkan berlangsung delapan jam tersebut sempat terhenti selama satu jam lebih, menyusul kecelakaan yang dialami Loris Baz (Avintia Racing) ketika sesi baru berjalan 40 menit.

Setelah insiden tersebut, Michelin menarik ban belakang lunak mereka untuk mencari tahu apa penyebab kecelakaan tersebut.

Blok Masela Ternyata Kilang Terbesar di Dunia dan Cara Bijak Jokowi Memutuskannya....



Sekretaris Kabinet RI Pramono Anung mengungkapkan mengambil keputusan mengenai pengembangan kilang Blok Masela di Kalimantan Timur membutuhkan kesabaran. Sebab, proyek ini nantinya akan menjadi pembangunan gas terbesar di dunia sehingga keputusan yang diambil harus benar-benar yang terbaik.

Adanya dua opsi yang bergulir terkait pengembangan kilang di Blok Masela, yaitu skema LNG terapung (floating LNG/FLNG/offshore) yang diajukan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, dan skema pipanisasi di darat (onshore) yang diajukan Menteri Koordinator (Menko) bidang Kemaritiman Rizal Ramli.


"Ini akan menjadi proyek gas terbesar di dunia, dan untuk itu memang perlu kesabaran untuk memutuskan. Karena keputusannya tidak boleh salah. Suasana ratas sangat dinamis, sangat hangat. Presiden sangat happy dengan apa yang terjadi," ujarnya, (1/2/16).

Politisi PDI-Perjuangan ini mengakui bahwa suasana rapat kabinet terbatas terkait Lapangan Abadi ini diwarnai banyak perbedaan pendapat dari para menteri dalam Kabinet Kerja. Presiden Jokowi pun menghormati setiap perbedaan yang ada. Namun, Presiden menekankan perbedaan boleh terjadi tapi ketika keputusan telah diambil tidak boleh ada lagi yang berbicara di luar kabinet.

Menurut Pramono, pemerintah ingin membangun sebuah tradisi baru yaitu setiap perbedaan hanya terjadi di dalam rapat. Namun setelah diputuskan Presiden, semua wajib mentaati.


"Kita ingin membangun sebuah tradisi baru, perbedaan itu terjadi dalam rapat. Tapi begitu presiden sudah memutuskan, maka semuanya wajib untuk mengikuti. Jadi itu yang terjadi. Sekali lagi, belum ada keputusan," tandasnya.